sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kinerja Laba Emiten Terbaik dalam 3 Tahun, tapi Tak Semua Sektor Ikut Berpesta

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
04/11/2026 06:29 WIB
Kinerja laba emiten di bursa domestik sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26) mencatatkan pencapaian terbaik dalam tiga tahun terakhir.
Kinerja Laba Emiten Terbaik dalam 3 Tahun, tapi Tak Semua Sektor Ikut Berpesta. (Foto: Magnific)
Kinerja Laba Emiten Terbaik dalam 3 Tahun, tapi Tak Semua Sektor Ikut Berpesta. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Kinerja laba emiten di bursa domestik sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M26) mencatatkan pencapaian terbaik dalam tiga tahun terakhir dari sisi realisasi yang melampaui ekspektasi pasar.

Namun, di balik capaian tersebut, pertumbuhan laba mulai menunjukkan ketimpangan. Lonjakan laba perusahaan komoditas menjadi penopang utama, sementara sektor nonkomoditas justru mengalami kontraksi.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Hadi Soegiarto mengungkapkan, sebanyak 33 persen perusahaan yang masuk dalam cakupan analisisnya membukukan laba bersih 9M26 di atas konsensus Bloomberg.

Pencapaian ini menjadi yang terbaik sejak 9M23, bahkan melampaui kinerja sepanjang 2023 yang turut ditopang momentum menjelang Pemilu 2024.

Dalam riset yang dirilis pada 2 November 2026, Hadi menjelaskan, sejumlah emiten dengan kinerja terbaik antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), perusahaan semen, ritel, serta emiten komoditas yang bergerak di sektor minyak dan gas, pertambangan logam, dan kelapa sawit.

Sektor properti juga mencatatkan kinerja lebih baik dari perkiraan, terutama berkat kuatnya permintaan pusat data (data center).

Sementara itu, kinerja peritel barang konsumsi nonprimer juga relatif lebih baik dari ekspektasi, seiring perlambatan permintaan yang tidak sebesar perkiraan sebelumnya.

Meski demikian, capaian yang melampaui konsensus belum berarti pertumbuhan laba emiten secara keseluruhan tetap solid.

“Tidak ada sektor tertentu yang kinerjanya jauh di bawah ekspektasi. Namun, pelemahan terlihat pada sejumlah perusahaan yang tersebar di berbagai sektor,” tulis Hadi.

CGSI mencatat, pertumbuhan laba bersih emiten nonkomoditas justru melambat tajam, dari 11 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 menjadi minus 3 persen pada kuartal III-2026.

Angka tersebut menjadi yang terlemah sejak kuartal III-2024, ketika pertumbuhannya juga minus 3 persen.

Secara keseluruhan, 169 perusahaan berkapitalisasi pasar terbesar di IHSG yang telah merilis laporan keuangan 9M26 membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16 persen. Namun, angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan 24 persen pada kuartal II-2026.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh lonjakan laba perusahaan komoditas yang mencapai 91 persen secara tahunan pada kuartal III-2026.

Sektor pertambangan dan mineral mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 112 persen, disusul sektor pertanian atau perkebunan yang tumbuh 63 persen.

Sebaliknya, sejumlah sektor justru mengalami kontraksi laba.

Sektor perunggasan mencatatkan penurunan laba bersih 16 persen, telekomunikasi turun 3 persen, dan barang konsumsi primer terkoreksi 2 persen secara tahunan.

Sektor perbankan dan jasa keuangan juga hanya mencatatkan pertumbuhan laba 1 persen.

Kinerja bank-bank besar yang masih tumbuh solid sebesar 11 persen tertahan oleh lemahnya realisasi laba bank-bank menengah dan kecil.

Pertumbuhan laba perusahaan barang konsumsi nonprimer pun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di tengah perlambatan tersebut, sektor properti-real estate menjadi salah satu titik terang.

Permintaan pusat data yang kuat turut menopang kinerja perusahaan properti, menjadikannya salah satu sektor yang mampu mencatatkan hasil lebih baik dari perkiraan pasar.

Tetap Selektif di Tengah Tekanan Eksternal

Melihat kondisi tersebut, CGSI masih mengambil sikap hati-hati terhadap pergerakan IHSG.

Tekanan eksternal, terutama harga minyak yang tinggi dan imbal hasil obligasi global, serta risiko penurunan status Indonesia oleh MSCI menjadi Standalone Market masih menjadi faktor yang membayangi pasar saham domestik.

Meski demikian, CGSI menilai ruang penurunan IHSG dalam jangka menengah berpotensi terbatas.

Penilaian tersebut didukung oleh rata-rata dividend yield saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen MSCI Indonesia Standard Cap, yang telah mencapai 9 persen.

Selain itu, valuasi pasar juga dinilai semakin menarik.

Rasio harga saham terhadap laba bersih atau price to earnings (P/E) berdasarkan proyeksi tahun buku 2027 telah turun ke level 9 kali per 30 Oktober 2026.

Kendati valuasi mulai menarik, CGSI belum melihat kondisi tersebut sebagai alasan untuk kembali agresif masuk ke pasar.

Hadi menyebut, pihaknya masih mencermati langkah reformasi signifikan yang dapat dilakukan otoritas sebagai respons terhadap ancaman penurunan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.

Inisiatif reformasi tersebut menjadi salah satu indikator penting sebelum CGSI mempertimbangkan kembali peningkatan eksposur di pasar saham Indonesia.

Untuk sementara, CGSI memilih lebih selektif dalam menentukan saham pilihan, dengan memberikan perhatian lebih besar kepada emiten berdividen tinggi dan perusahaan yang memiliki sumber pendapatan dalam dolar AS.

Saham-saham yang menjadi pilihan utama CGSI meliputi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), ASII, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indosat Tbk (ISAT), PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT Timah Tbk (TINS), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement