Dari sisi makroekonomi, inflasi Indonesia pada Oktober melandai menjadi 3,23 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Sementara itu, neraca perdagangan September masih mencatat surplus US$3,36 miliar, meski lebih rendah dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada pemilu sela Amerika Serikat (AS) dan rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) pada malam ini.
Dari dalam negeri, pasar juga menantikan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 pada 5 November, dengan konsensus pertumbuhan sebesar 5,0 persen YoY.
Selain itu, data tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis pada 6 November turut menjadi salah satu katalis yang dicermati pasar.