IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan besar pada pekan ini setelah MSCI mengusulkan konsultasi publik untuk menurunkan (downgrade) pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut terkait dengan isu kelayakan investasi (investability), konsentrasi kepemilikan saham, hingga dugaan manipulasi saham (coordinated trading).
IHSG melemah 15 persen sebesar hampir 1.000 poin selama sepekan (12-16 Oktober 2026). Pelemahan IHSG didorong oleh saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang menyeret ratusan saham lainnya.
"Perubahan dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 14,91 persen sehingga ditutup pada level 5.185,105 dari posisi 6.093,759 pada pekan sebelumnya," kata Pelaksana Harian (PH) Sekretaris Perusahaan BEI, Valentina Simon keterangan resmi, Sabtu (17/10/2026).
Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), BEI bahkan sempat memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 08.58:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) usai IHSG menyentuh ambang batas penurunan sebesar 8 persen.
Seiring pelemahan indeks, nilai kapitalisasi pasar BEI tergerus 14,43 persen menjadi Rp9.157 triliun dari Rp10.701 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian terkoreksi 5,22 persen menjadi 44,102 miliar saham, sementara rata-rata nilai transaksi harian turun tipis 0,07 persen menjadi Rp16,21 triliun.