Serangan tersebut terjadi setelah kelompok yang bersekutu dengan Iran itu memperingatkan masyarakat untuk meninggalkan fasilitas tersebut di tengah eskalasi pertempuran di negara yang dilanda konflik tersebut.
Sehari sebelumnya, Houthi menyatakan telah menyerang kilang minyak terbesar Arab Saudi dengan rudal.
Serangan itu meningkatkan intensitas serangan terhadap Arab Saudi, produsen minyak mentah terbesar kedua dunia setelah AS.
Otoritas Saudi belum segera mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas yang memiliki kapasitas pengolahan 550.000 barel per hari tersebut.
"Kontrak minyak kembali memperhitungkan potensi pengetatan pasokan dalam waktu dekat setelah muncul kabar bahwa AS kemungkinan segera kembali melakukan operasi militer. Operasi tersebut dapat lebih intens dibandingkan sebelumnya mengingat serangan terbaru terhadap Arab Saudi dan sekutu AS lainnya di Timur Tengah," kata Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler, seperti dikutip Reuters.