IDXChannel – Harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) kembali melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut.
Tekanan datang dari kekhawatiran meningkatnya persediaan, sementara pelaku pasar mencermati pergerakan harga minyak kedelai dan minyak mentah sebagai petunjuk arah selanjutnya.
Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives turun 1,18 persen menjadi 4.594 ringgit per ton pada pukul 15.33 WIB.
Trader dari perusahaan perdagangan berbasis di Kuala Lumpur, Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, mengatakan kontrak berjangka CPO masih bergerak hati-hati dan cenderung melemah. Kekhawatiran terhadap tingginya persediaan terus membatasi potensi kenaikan harga.
"Kami memperkirakan harga bergerak dalam kisaran terbatas pada perdagangan sore, dengan area penopang di sekitar 4.600 ringgit dan resistensi di 4.800 ringgit. Pelaku pasar masih memantau harga minyak kedelai dan minyak mentah untuk menentukan arah selanjutnya," ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Di pasar komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian turun 1,3 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 0,5 persen. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik tipis 0,09 persen.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti minyak nabati pesaing karena ketiganya bersaing memperebutkan pangsa pasar minyak nabati global.
Sementara itu, harga minyak mentah bergerak naik setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) menyerang Pulau Qeshm di Iran.
Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan serta gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak mentah berjangka membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia yang menjadi mata uang transaksi CPO melemah 0,12 persen terhadap dolar AS.
Kondisi ini membuat minyak sawit sedikit lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Di sisi lain, survei sejumlah lembaga pemeriksa kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada Oktober meningkat antara 45,4 persen hingga 73,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ekspor tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar di tengah kekhawatiran terhadap tingginya persediaan minyak sawit. (Aldo Fernando)