"Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha grup," ujar Thomas dalam keterangan resmi dikutip Jumat (30/10/2026).
Menurut Thomas, dukungan Danantara sebagai pemegang saham juga diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, optimalisasi aset, dan sinergi antarentitas usaha.
Dari sisi operasional, jumlah pesawat siap operasi Grup mencapai 106 unit hingga September 2026, terdiri atas 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink. Jumlah tersebut bertambah 24 pesawat dibandingkan 82 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring program reaktivasi armada dan optimalisasi kapasitas dengan dukungan Danantara.
Peningkatan ketersediaan armada turut mendorong jumlah penumpang menjadi 16,7 juta orang, naik dari 15,6 juta orang pada 9M25. Frekuensi penerbangan meningkat 7,9 persen menjadi 117.868 penerbangan. Selain itu, tingkat ketepatan waktu penerbangan (on-time performance atau OTP) mencapai 92,01 persen, membaik dibandingkan 86,15 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Thomas mengatakan, pemulihan armada harus diikuti peningkatan produktivitas dan optimalisasi jaringan penerbangan agar penambahan kapasitas memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap bisnis. Perseroan juga akan memperkuat utilisasi armada, efisiensi operasional, pengelolaan biaya, serta kontribusi seluruh lini usaha Grup untuk mempercepat pemulihan kinerja keuangan.