Dengan kombinasi risiko pasokan dan tambahan permintaan biodiesel tersebut, CGSI menaikkan proyeksi harga acuan CPO Malaysia menjadi 4.800 ringgit Malaysia per ton pada 2027.
Kenaikan asumsi harga CPO tersebut, menurut CGSI, mencerminkan potensi gangguan pasokan akibat El Niño, penyerapan domestik yang meningkat karena B50, permintaan biofuel global, serta harga diesel yang lebih kuat.
Proyeksi tersebut turut mendorong kenaikan estimasi laba. CGSI menaikkan proyeksi laba bersih inti emiten perkebunan dalam cakupan riset sebesar 13,7 persen menjadi Rp7,8 triliun pada 2027.
Kenaikan terbesar terjadi pada PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dengan proyeksi laba bersih inti 2027 naik 42,8 persen, sementara PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dinaikkan 16,4 persen.
Sebaliknya, estimasi laba bersih inti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dipangkas 7,4 persen.