Namun, riset tersebut melihat peluang juga terbuka pada perusahaan penyedia infrastruktur yang berada di belakang pembangunan data center.
DMAS, misalnya, memiliki lahan dengan komitmen pasokan listrik sebesar 993 MVA. TOTL memiliki sekitar 39 persen proyek yang terkait dengan data center, sementara POWR berpotensi memperoleh manfaat dari pertumbuhan kebutuhan listrik berulang.
Di sisi konektivitas, KETR dan MORA memiliki eksposur terhadap pembangunan jaringan dengan kapasitas desain hingga 400 Tbps.
Dengan kata lain, pertumbuhan industri data center Indonesia tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk.
Kemampuan untuk menyediakan listrik tepat waktu, membangun konektivitas, dan mengubah kapasitas menjadi tenant akan menjadi penentu kapan investasi tersebut mulai menghasilkan imbal hasil. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.