Indonesia sebenarnya memiliki surplus pembangkitan sekitar 41 terawatt-hour (TWh), tetapi keandalan jaringan dan waktu penyambungan yang panjang masih menjadi kendala. Koneksi jaringan Jawa-Sumatera milik PLN, misalnya, diperkirakan baru tersedia pada 2031.
Solusi seperti pembangkit listrik di belakang meter (behind-the-meter), tenaga surya, dan battery storage dapat mengurangi ketergantungan terhadap jaringan utama. Namun, adopsinya di Indonesia masih terbatas.
Di tingkat regional, kebutuhan kapasitas data center terus meningkat seiring akselerasi AI.
Permintaan listrik global untuk data center diproyeksikan mencapai sekitar 945 TWh dan kapasitas global menembus lebih dari 200 GW pada 2030.
Belanja modal hyperscaler juga diperkirakan mencapai USD1,25 triliun pada 2027, ditopang backlog cloud sekitar USD2,5 triliun.