Di tengah tantangan tersebut, Batam muncul sebagai peluang pertumbuhan utama.
Kedekatan geografis dengan Singapura, biaya lahan yang lebih rendah, serta latency kurang dari 2 milidetik ke Singapura membuat Batam berpotensi menjadi alternatif hub data center untuk kebutuhan hyperscale dan beban kerja artificial intelligence (AI).
Dari sisi biaya, Indonesia sebenarnya memiliki posisi kompetitif.
Biaya konstruksi data center di Indonesia diperkirakan sekitar USD8,9 juta per MW, lebih rendah dibandingkan Malaysia sebesar USD9,9 juta per MW.
Biaya listrik Indonesia juga berada di sekitar USDc6,3 per kilowatt-hour, dibandingkan USDc10,6 per kilowatt-hour di Malaysia.
Keunggulan biaya tersebut mendukung yield on cost sekitar 10 persen hingga 11 persen.
Dalam simulasi proyek berkapasitas 100 MW, Daniel memperkirakan internal rate of return (IRR) colocation di Jakarta dapat mencapai 16,3 persen pada tarif sewa USD200 per kilowatt per bulan, sedikit di atas Kuala Lumpur sebesar 16,2 persen.