Sementara untuk segmen hyperscale dengan tarif sewa USD150 per kilowatt per bulan, IRR Batam diperkirakan mencapai 15,1 persen, dibandingkan Johor sebesar 13,4 persen.
Namun, keunggulan biaya tersebut tidak otomatis menjamin kapasitas baru terserap oleh pasar. Menurut Daniel, ketersediaan jaringan listrik dan konektivitas akan menjadi faktor yang menentukan seberapa cepat permintaan dapat dikonversi menjadi pendapatan.
Konektivitas Batam sendiri berkembang lebih cepat dibandingkan infrastrukturnya di sisi kelistrikan.
Investasi yang telah dikomitmenkan oleh Google, Meta, dan Microsoft diperkirakan mendorong total kapasitas kabel bawah laut Batam menjadi lebih dari 1.750 terabit per second (Tbps) pada 2029, meningkat 407,8 persen.
Peningkatan konektivitas tersebut menempatkan Batam dalam posisi yang semakin relevan untuk menangkap pertumbuhan beban kerja AI, khususnya inference. Sebaliknya, pasokan listrik masih menjadi titik lemah utama.