Selanjutnya, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) sebesar 12,13 persen, PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) 11,91 persen, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) 11,85 persen, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) 11,18 persen, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) 10,62 persen, PT Bank Permata Tbk (BNLI) 9,97 persen, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) 9,33 persen, dan PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD) 9,07 persen.
Kemudian, PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB) memiliki free float 8,82 persen, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) 8,29 persen, PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) 8,23 persen, PT Bank BTPN Tbk (BTPN) 7,87 persen, PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD) 7,68 persen, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) 7,67 persen, dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) 7,60 persen.
Sementara itu, PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) tercatat memiliki free float 7,55 persen, PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR) 7,53 persen, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) 7,53 persen, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) 7,50 persen, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) 7,34 persen, dan PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) 6,67 persen.
Dengan posisi tersebut, BNGA bukan satu-satunya bank yang menghadapi tantangan untuk memenuhi ketentuan free float minimum. Bahkan, terdapat sejumlah bank lain yang memiliki porsi saham publik lebih rendah dibandingkan BNGA.
Dari daftar tersebut, BKSW memiliki free float terendah, yakni 6,67 persen, disusul NOBU sebesar 7,34 persen dan BNGA sebesar 7,50 persen. Sementara itu, BBKP memiliki free float paling tinggi dalam daftar, tetapi masih berada di bawah ambang 15 persen, yakni 14,79 persen.