IDXChannel - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) elihat pembelian kembali saham atau buyback sebagai aksi korporasi yang baik, ditopang kinerja yang solid dan keyakinan terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Aksi korporasi ini menjadi bagian dari strategi rutin perseroan dalam mengelola modal dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pengembangan usaha dan kondisi keuangan.
Dalam keterangan pers Kamis (22/10/2026), pada program buyback terakhir, Bank Mandiri merealisasikan pembelian kembali sebanyak 91,75 juta saham yang kemudian dialihkan melalui Program Kepemilikan Saham bagi Karyawan pada 24 - 29 Juni 2026.
Pemanfaatan saham tersebut diarahkan untuk mendorong rasa memiliki dan produktivitas karyawan, sekaligus menyelaraskan kontribusi mereka dengan kinerja jangka panjang perseroan.
Sesuai persetujuan RUPST 2026, saham hasil buyback dapat dialihkan melalui program kepemilikan saham karyawan dengan mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Selain melalui buyback, pembagian dividen menjadi bagian dari strategi Bank Mandiri dalam memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Sepanjang kalender 2026, total dividen yang dibagikan mencapai sekitar Rp50,63 triliun, terdiri atas dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,47 triliun dan dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun.
Pembagian dividen interim tersebut tetap mempertimbangkan realisasi laba, kecukupan modal, likuiditas, serta kebutuhan ekspansi bisnis.
Evaluasi ini memastikan perseroan dapat memberikan imbal hasil kepada pemegang saham sekaligus menjaga kapasitas untuk mendukung penyaluran kredit dan pertumbuhan kinerja.
Sejalan dengan pertimbangan tersebut, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyampaikan bahwa pembagian dividen interim merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan pemegang saham sekaligus cerminan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba.
“Kami ingin pemegang saham dapat menikmati hasil kinerja Bank Mandiri lebih awal melalui dividen interim. Besarannya tetap memperhatikan kebutuhan modal untuk ekspansi dan mengantisipasi risiko, sehingga Bank Mandiri dapat terus mengembangkan bisnis dan menghasilkan laba yang mendukung imbal hasil berkelanjutan bagi pemegang saham,” ujar Novita.
Prinsip keseimbangan tersebut juga mendasari evaluasi atas pembagian dividen dan rencana buyback, dengan tetap memperhatikan ketahanan fundamental bisnis Bank Mandiri. Hal ini tercermin dari kinerja hingga Agustus 2026, dengan penyaluran kredit secara bank only mencapai Rp1.592 triliun, tumbuh 17,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan tersebut diimbangi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.687 triliun, yang juga tumbuh 17,6 persen YoY, melampaui pertumbuhan DPK industri sebesar 13,7 persen.
Seiring pertumbuhan bisnis tersebut, kualitas aset tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 1,00 persen dan NPL coverage ratio sebesar 240,6 persen. Pada periode yang sama, laba bersih secara bank only mencapai Rp37,5 triliun, tumbuh 22,3 persen YoY.
Ke depan, Bank Mandiri akan terus menjaga keseimbangan antara pemberian imbal hasil dan penguatan kapasitas bisnis melalui pengelolaan modal yang prudent. Dengan pendekatan ini, pertumbuhan kinerja diharapkan terus memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham.
(Kunthi fahmar sandy)