Seiring peningkatan aktivitas usaha, beban pokok pendapatan perseroan naik sekitar 54 persen menjadi Rp48,30 miliar dari Rp31,31 miliar. Namun, kenaikan tersebut masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan sehingga laba kotor meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp48,98 miliar dari Rp22,07 miliar.
Di sisi lain, beban umum dan administrasi meningkat sekitar 62 persen menjadi Rp27,62 miliar dari Rp17,08 miliar. Beban bunga juga naik hampir tiga kali lipat menjadi Rp11,31 miliar dibandingkan Rp3,90 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, laba sebelum beban pajak tercatat sebesar Rp11,29 miliar, meningkat dari Rp3,57 miliar. Sementara itu, laba bersih periode berjalan mencapai Rp10,70 miliar, dibandingkan Rp3,57 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham juga meningkat menjadi Rp13,40 dari sebelumnya Rp4,47.
Dari sisi neraca, total aset JAYA per 30 September 2026 tercatat sebesar Rp517,94 miliar, naik sekitar 37 persen dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp378,16 miliar. Kenaikan tersebut antara lain terlihat pada aset tetap bersih yang meningkat menjadi Rp369,89 miliar dari Rp251,95 miliar.
Sejalan dengan peningkatan aset, total liabilitas perseroan naik sekitar 51 persen menjadi Rp382,96 miliar dari Rp253,88 miliar pada akhir 2025. Kenaikan terbesar berasal dari liabilitas sewa pembiayaan yang mencapai sekitar Rp143,56 miliar, dibandingkan sekitar Rp26,60 miliar sebelumnya.