Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan. Dia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.
Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat dia sampaikan pada 2020. Kini, Amerika Serikat (AS) sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia. Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang yang diresmikan pada 2024.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno dalam laporannya juga menyebut, langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.
Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya. Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia.
(NIA DEVIYANA)