sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saudi Aramco Bakal Tingkatkan Ekspor Minyak Jadi 60 Juta Barel di September-Oktober

Economics editor Febrina Ratna Iskana
19/09/2026 00:16 WIB
Saudi Arabia menjual sekitar 60 juta barel minyak mentah dari pelabuhan utama di dalam Selat Hormuz untuk dimuat melalui transfer antar-kapal di Oman.
Saudi Aramco Bakal Tingkatkan Ekspor Minyak Jadi 60 Juta Barel di September-Oktober. (Foto: iNews Media Group)
Saudi Aramco Bakal Tingkatkan Ekspor Minyak Jadi 60 Juta Barel di September-Oktober. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Saudi Arabia menjual sekitar 60 juta barel minyak mentah dari pelabuhan utama di dalam Selat Hormuz untuk dimuat melalui transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer) di Oman selama September dan Oktober.

Mengutip dari Reuters berdasarkan sejumlah sumber perdagangan, perusahaan penyulingan dari China dan Korea Selatan termasuk pembeli terbesar pasokan pasar spot itu, sementara sebagian lainnya akan dikirim ke India dan Jepang.

Hal ini mendorong rata-rata ekspor perusahaan minyak negara Saudi Aramco dari wilayah Teluk menjadi antara 1 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Angka ini sedikit di atas tingkat ekspor pada Agustus.

Asia merupakan pasar utama bagi Arab Saudi, salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Kekhawatiran sempat muncul bahwa konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, serta pergerakan maju milisi Houthi yang didukung Teheran di Yaman, akan menghambat ekspor minyak mentah Saudi.

Kedua medan konflik yang meluas di Timur Tengah ini secara bersama-sama dapat menyebabkan gangguan berkepanjangan pada arus minyak yang melewati Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua titik krusial dalam jalur pasokan.

Selat Hormuz terletak tepat di lepas pantai selatan Iran dan secara efektif telah ditutup oleh Teheran tak lama setelah dimulainya serangan gabungan AS dan Israel terhadap negara tersebut pada akhir Februari.

Sementara itu, Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan telah digunakan oleh Arab Saudi sebagai rute alternatif untuk mengirimkan minyak ke pasar global.

Serangan pekan lalu juga menyebabkan penutupan jalur pipa utama timur-barat yang membentang melintasi wilayah Arab Saudi, meskipun Bloomberg News melaporkan bahwa Riyadh kemungkinan akan segera memulihkan sebagian aliran minyak tersebut.

China sebagai pembeli utama minyak Iran, juga telah meningkatkan upaya diplomatik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri dan membuka kembali Selat Hormuz, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengadakan konsultasi dengan para pejabat China dan Pakistan, menurut laporan media.

Upaya China tersebut telah "menambah harapan bahwa gangguan pasokan mungkin akan mereda," ungkap para analis Deutsche Bank dalam sebuah catatan.

Harapan akan pemulihan ekspor yang berkelanjutan telah membantu menenangkan investor yang gelisah dan meredam ketegangan regional yang terus berlanjut, sehingga mendorong penurunan harga minyak mentah berjangka global pada Jumat, demikian dilaporkan Reuters.

Namun, kontrak acuan minyak mentah Brent tetap berada di atas level USD100 per barel, membuat pasar tetap waspada terhadap tekanan inflasi akibat harga energi serta potensi siklus pengetatan kebijakan moneter.

Baik Federal Reserve (The Fed) maupun Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga minggu ini, sementara Bank of England (BOE) memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga mungkin akan dilakukan akhir tahun ini, yang menegaskan kekhawatiran para pembuat kebijakan mengenai inflasi.

Sementara itu, prospek pasokan masih sangat tidak pasti. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan pada Jumat bahwa sebuah kapal tanker berbendera Togo telah terkena serangan saat mencoba melakukan apa yang mereka sebut sebagai "pelayaran ilegal" melintasi Selat Hormuz, menurut laporan media pemerintah Iran.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan kepada Axios bahwa ia hampir mengambil keputusan besar mengenai apakah akan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran. Menurut Axios, ia dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman pekan depan di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement