Guna mencapainya, ekonomi perlu tumbuh sekitar 5,5 persen (YoY) pada triwulan IV-2026, di atas basis yang tinggi, yaitu sebesar 5,39 persen pada triwulan IV-2025).
"Persoalannya, percepatan itu harus dicapai ketika tiga tekanan memuncak bersamaan. Pertama, harga minyak yang tetap tinggi merambat ke biaya produksi dan transportasi, menekan margin dunia usaha, dan memperbesar tagihan impor," ujar Adhi.
Kedua, menurut Adhi, El Niño menekan produksi padi, yang turun 18,3 persen pada September dan diperkirakan turun 16,3 persen pada Oktober–Desember 2026, sehingga berpotensi mendorong harga bahan pokok di tengah inflasi yang sudah bertahan di atas tiga persen.
Dalam hal ini, kelompok berpendapatan rendah paling rentan, karena pangan menyumbang porsi terbesar pengeluaran mereka dan tabungan mereka sudah menipis.
Sedangkan yang ketiga, kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung hingga Oktober di Kalimantan dan Sumatra mengganggu aktivitas ekonomi, dan berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar.