"Energi nuklir memiliki porsi sebesar 10 persen terhadap elektrifikasi di dunia, dengan sebanyak 440 reaktor nuklir yang beroperasi," kata Bambang.
Menanggapi hal itu, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menegaskan, pemerintah sampai saat ini masih menjadikan PLTN sebagai opsi yang dimunculkan untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sekitar 23 persen pada 2025.
Namun untuk mewujudkan itu, kata dia, memerlukan program pembangunan, yang sebelumnya harus melalui kajian secara mendalam. Terlebih sampai saat ini, kekhawatiran masyarakat soal reaksi nuklir masih sangat besar.
"Indonesia memang sedang transisi energi ke energi baru terbarukan. Termasuk potensi uranium dan thorium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Tapi kita harus hati-hati menggunakan istilah nuklir di masyarakat. Butuh edukasi dan sosialisasi," ucap Moeldoko.
Mantan Panglima TNI ini juga mengakui, pembangkit listrik modular skala kecil bertenaga nuklir yang dikembangkan last energy sangat sesuai dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, yang kebutuhan listriknya masih relatif kecil.