sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kadin Dorong Penguasaan Teknologi Demi Percepat Hilirisasi Mineral Kritis

Economics editor Tangguh Yudha
28/10/2026 23:00 WIB
Kadin Indonesia mendorong penguasaan teknologi untuk mempercepat hilirisasi mineral kritis dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Kadin Dorong Penguasaan Teknologi Demi Percepat Hilirisasi Mineral Kritis. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)
Kadin Dorong Penguasaan Teknologi Demi Percepat Hilirisasi Mineral Kritis. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)

IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguasaan teknologi untuk mempercepat hilirisasi mineral kritis dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat industri nasional sekaligus mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, penguasaan teknologi menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia tidak hanya bergantung pada aktivitas pertambangan dan produksi bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan China dalam mengembangkan industri pengolahan sumber daya alam hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki daya saing global.

"Saya pikir apa yang telah kita lihat di Jepang, Korea, dan juga China adalah kemampuan bagaimana memproses mineral kritis atau sumber daya alam untuk menjadi end-user device. Dan untuk melakukan itu, kita butuh teknologi," kata Anindya dalam rangkaian acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu, (28/10/2026).

Anindya menjelaskan penguasaan teknologi tidak harus sepenuhnya dimulai dari inovasi dalam negeri. Indonesia dapat terlebih dahulu mengadopsi teknologi dari luar, kemudian mengembangkan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan industri nasional.

Dalam proses tersebut, Anindya menekankan pentingnya kerja sama dengan mitra internasional. Kemitraan internasional diperlukan agar industri dalam negeri dapat mempelajari teknologi hingga mampu mengembangkannya secara mandiri.

"Kita juga butuh mitra, karena misalnya dalam hilirisasi mineral kritis, kita butuh mitra untuk melakukannya sampai kita tahu cara belajar melakukannya sendiri. Dan tentu saja, kita butuh geopolitik untuk bekerja untuk kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Anindya menyoroti struktur industri Indonesia yang selama ini dinilai masih memiliki kelemahan pada sektor pengolahan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki kemampuan di sektor pertambangan, pertanian, dan manufaktur padat karya, tetapi perlu memperkuat industri yang menghubungkan bahan mentah dengan produk akhir.

"Kita telah menjadi penambang yang sangat baik, atau petani, kita telah menjadi penjahit yang baik, tetapi kita juga perlu memproses lebih banyak," ungkapnya.

Anindya menambahkan, transformasi industri berbasis teknologi menjadi semakin mendesak mengingat Indonesia memiliki waktu terbatas untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Ia memperkirakan Indonesia perlu meningkatkan pendapatan per kapita dari sekitar USD5.000 menjadi USD14.000 dalam kurun waktu 20 tahun untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi.

"Kita harus tumbuh dari USD5.000 per kapita menjadi sekitar USD14.000 per kapita dalam 20 tahun. Sekarang, 20 tahun adalah waktu yang lama, tapi kita hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya," ucapnya.

Selain teknologi, Anindya menilai Indonesia membutuhkan tenaga kerja terampil, pembiayaan jangka panjang, serta pasar modal yang solid dan tepercaya untuk mendukung transformasi ekonomi.

"Saya pikir agar kita bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah, kita butuh banyak orang, dan kita butuh untuk memikirkan bagaimana melatih mereka dengan cepat, karena dalam 20 tahun, di satu sisi mereka butuh pekerjaan, 4 sampai 5 juta pekerjaan, di sisi lain kita butuh banyak orang yang baik. Dan saya pikir kita juga butuh patient capital. Oleh karena itu, kemampuan untuk mempertahankan pasar modal yang solid dan tepercaya," kata dia.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement