"Saya pernah di posisi ini, uang saya enggak banyak dan kalau rugi langsung habis seketika, bahkan pernah rugi Rp40 juta lebih dari sebuah risiko yang harusnya sejak awal saya tahu. Maka investasi itu adalah sebuah perjalanan yang tidak sembarangan untuk memulai," kata Investor sekaligus Content Creator Irsyad Al Ghifari dalam kesempatan yang sama.
Stigma keliru mengenai instrumen ekuitas kerap membuat sebagian anak muda ragu menempatkan dananya di pasar modal resmi. Padahal, kepemilikan saham pada hakikatnya merupakan bukti kepemilikan sah atas porsi bisnis riil yang memiliki aset serta kinerja operasional yang nyata.
"Saham itu ada yang bilang adalah judi atau haram karena enggak jelas, buat saya enggak. Saham itu sama saja kayak teman-teman membeli akta tanah atau membeli barang cuma dalam bentuk kepemilikan, padahal jelas underlying-nya adalah kepemilikan dari sebuah perusahaan itu," ujar Irsyad.
Diversifikasi portofolio ke instrumen berpendapatan tetap maupun produk reksabdana dapat menjadi opsi penyeimbang guna meminimalkan fluktuasi pasar bagi pemodal pemula. Kehadiran varian efek berbasis syariah turut memperluas alternatif investasi yang aman sekaligus berkontribusi langsung pada pembiayaan proyek-proyek pembangunan publik.
"Obligasi atau sukuk menawarkan return sekitar 6 sampai 7 persen dengan tenor 2 tahun yang berguna mendanai fasilitas kesehatan daerah 3T maupun infrastruktur sekolah, jembatan, dan jalan. Kalau reksa dana dikelola manajer investasi dengan hasil tergantung pilihan, dan sekarang baik saham, reksa dana, hingga ETF sudah tersedia pilihan syariahnya," katanya.
(Dhera Arizona)