"Selama 30 tahun lebih harga itu pasti naik lebih mahal, dan inilah alasan kenapa kita perlu berinvestasi untuk membuat uang kita punya aset yang bekerja. Kalau zaman dulu nabung dulu baru investasi karena buka reksa dana minimal Rp10 juta, sekarang mulai dari Rp50 ribu atau Rp100 ribu sudah bisa, bahkan tersedia ETF emas di bursa untuk mengamankan dan menumbuhkan aset," ujar Aliyah.
Aliyah memaparkan catatan historis bahwa perekonomian kerap diuji oleh berbagai guncangan, mulai dari krisis moneter 1998, krisis finansial global 2008, hingga pandemi Covid-19 pada 2020. Meski demikian, harga komoditas terus merangkak naik, tecermin dari harga 1 gram emas Antam yang melonjak dari kisaran Rp26 ribu pada 1996 menjadi sekitar Rp2,5 juta pada saat ini.
Berbeda dengan pandangan masa lalu yang hanya mengandalkan deposito dan emas fisik karena terbatasnya akses bursa, saat ini investor muda dapat meracik strategi alokasi aset secara fleksibel di Bursa Efek Indonesia, baik untuk mode defensif mengamankan modal maupun agresif mengejar pertumbuhan saat kondisi pasar kondusif.
Sejalan dengan hal tersebut, kesadaran terhadap risiko menjadi modal utama bagi investor muda agar tidak terjerumus pada ekspektasi keuntungan yang keliru. Pengalaman menelan kerugian portofolio akibat minimnya pemahaman risiko menjadi pengingat penting dalam membangun strategi investasi yang terukur.