Penertiban entitas yang membebani kas perusahaan pelat merah tersebut diklaim sebagai operasi perampingan organisasi bisnis terbesar di tingkat global. Aksi korporasi ini dinilai krusial untuk mengeliminasi tumpang tindih operasional yang selama ini memicu kebocoran neraca keuangan.
"Hingga hari ini, Danantara telah merampingkan dan menutup 364 perusahaan BUMN yang merugi atau tidak efisien. Ini merupakan restrukturisasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan di dunia, dari 1.074 perusahaan disederhanakan hingga di bawah 200 perusahaan," kata Dony.
Dony menggarisbawahi target laba bersih Rp360 triliun pada tahun ini merupakan angka riil yang bebas dari manipulasi keuntungan semu.
Sepanjang 18 bulan pembenahan, Danantara telah menuntaskan pembersihan pembukuan melalui penghapusbukuan atau penurunan nilai aset (impairment) senilai Rp135 triliun atas pencatatan masa lalu yang tidak akurat.
Selain itu, manajemen berani mengambil langkah pemotongan kerugian, termasuk menyetujui proposal penghentian kerugian yang diajukan oleh Telkom dan beberapa BUMN lainnya demi menegakkan tata kelola perusahaan yang baik.