"Likuiditas cukup terkendali. Ini sejalan dengan ekspansi likuiditas yang dilakukan dan diperkuat oleh Bank Indonesia," ujar Destry.
Bukan hanya via SRBI, BI juga memperluas injeksi likuiditas lewat instrumen Foreign Exchange (FX) swap dan repo, yang secara akumulatif telah menyalurkan tambahan likuiditas hingga Rp387 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.
Untuk memastikan transmisi dana tersebut benar-benar terserap oleh sektor riil, bank sentral memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dipadukan dengan skema disinsentif kepemilikan surat berharga.
"Hingga minggu pertama September 2026, total insentif likuiditas yang telah diberikan mencapai Rp491,2 triliun," kata Destry.
Dalam aturan KLM teranyar, bank yang menempatkan porsi surat berharga (SBN dan SRBI) lebih dari 19 persen dari total dana hanya bisa mengantongi insentif pembiayaan maksimal 4 persen.