Sementara itu, DPK meningkat 21 persen secara tahunan menjadi Rp28,9 triliun dari Rp23,9 triliun pada akhir September 2025. Dana tersebut terdiri atas dana murah atau current account and savings account (CASA) sebesar Rp15,4 triliun, setara 53 persen dari total DPK, serta deposito sebesar Rp13,5 triliun atau 47 persen.
Dari sisi nasabah, Bank Jago melayani 19 juta nasabah hingga akhir September 2026, termasuk 13,1 juta nasabah pendanaan pengguna Aplikasi Jago. Kolaborasi dengan ekosistem Bibit dan Stockbit juga telah menghubungkan lebih dari 3,6 juta nasabah dengan layanan investasi, termasuk reksa dana, obligasi, dan saham.
Dalam penyaluran kredit, Bank Jago mengandalkan kerja sama dengan mitra ekosistem, platform digital, dan perusahaan pembiayaan, termasuk BFI Finance. Perseroan juga mengembangkan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah.
Untuk mendukung pembiayaan yang bertanggung jawab, Bank Jago menghadirkan fitur Rapor Kredit di Aplikasi Jago. Fitur tersebut membantu debitur memahami kondisi kredit dan kapasitas finansial sebelum mengambil keputusan pinjaman.
Di tengah ekspansi bisnis, Bank Jago mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 27,5 persen per September 2026. Arief mengatakan, perseroan akan terus memperkuat fundamental bisnis melalui inovasi dan kolaborasi untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan.