Ia menjelaskan, pelajar yang tergabung dalam ekstrakurikuler KKRI nantinya akan diberikan pembekalan-pembekalan untuk menjadi seorang pemimpin. Ekstrakurikuler ini juga disiapkan untuk membentuk generasi muda dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
"Ada tentang kepemimpinan, kan, tentang cinta tanah air," sambungnya.
Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan bahwa ekstrakurikuler KKRI tak membawa kesan militerisme di sekolah. Ekstrakurikuler ini lebih menekankan bela negara untuk siswa tingkat sekolah menengah.
"Bahwa KKRI ini sama sekali tidak benar ada semacam kesan, semacam militerisme di sekolah, jauh daripada pandangan yang seperti itu. Akan tetapi justru yang ditekankan di sini adalah bela negara-nya," kata Atip ketika memberikan sambutan.
Menurutnya, kehadiran perwira yang akan menjadi salah satu pembina ekstrakurikuler tersebut, bertujuan untuk membagikan pengetahuan atau pengalamannya sebagai prajurit kepada peserta didik.
"Kalaupun hadir para perwira di sekolah, itu adalah sharing bagian dari pengalaman, sharing ilmu pengetahuan, karena para perwira adalah mereka yang berdiri di garis depan di dalam membela negara ini," sambungnya.
(Nadya Kurnia)