Menurut Guswanto, pergerakan asap tersebut dipengaruhi pola angin yang secara umum bertiup dari timur-tenggara menuju barat laut-utara. "Kalau saya lihat baru dari seluruh citra satelit baru hari ini. Kemarin sore juga belum,” ucap Guswanto.
Kendati demikian, Guswanto mengingatkan bahwa keberadaan sebaran asap dalam citra satelit belum cukup untuk memastikan tingkat paparan polutan yang diterima masyarakat di permukaan tanah. Karena itu, masyarakat perlu memantau data kualitas udara, terutama konsentrasi partikel halus PM2.5.
“Dan yang paling penting itu menentukan risiko kesehatan adalah dengan melihat data kualitas udaranya, PM 2.5 atau air quality (kualitas udara) ya saat itu. Itu itu penting ya, jadi tolong juga dilihat air quality-nya ,” ujarnya.
Guswanto juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna mengantisipasi potensi gangguan kesehatan akibat paparan asap. Masyarakat yang hendak berolahraga disarankan memilih aktivitas di dalam ruangan serta menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik, seperti KN95, KF94, atau N95.
“Iya, pakai masker, batasi kegiatan di luar ruangan dulu, lebih baik apa, dibatasi dululah. Kalau olahraga, nge-gym aja di gym, tidak usah lari atau apa di luar ruangan ya, untuk mengurangi itu tadi, ya,” kata Guswanto.
(Rahmat Fiansyah)