Baron menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan tahap kajian untuk memperoleh dasar pengambilan keputusan yang terukur sebelum mempertimbangkan pengembangan lebih lanjut.
“Inovasi harus memberikan manfaat nyata dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Karena itu, kami mengedepankan pengujian menyeluruh terhadap aspek keselamatan, kelayakan operasional, dan keekonomian. Teknologi yang dikaji diharapkan dapat melengkapi pilihan distribusi gas sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik,” tambah Baron.
Kolaborasi ini turut mengkaji konsep Smart Gas Network yang dikembangkan Yachiyo Engineering dan Atomis. Konsep tersebut menggabungkan wadah penyimpanan gas dengan pemantauan jarak jauh untuk mendukung perencanaan pengiriman dan pengelolaan penggunaan gas.
Para pihak mengevaluasi kesesuaian konsep tersebut dengan infrastruktur, kebutuhan pengguna, dan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Peluang pemanfaatan sumber gas domestik, termasuk gas berbasis biomassa, dapat menjadi bagian dari evaluasi sesuai lingkup studi.
Sebagai perusahaan energi nasional yang mengelola bisnis dari hulu hingga hilir, Pertamina terus memperkuat bisnis utama sekaligus mengembangkan peluang bisnis rendah karbon melalui strategi dual growth. Kolaborasi teknologi menjadi bagian dari upaya tersebut untuk mendukung ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan penerimaan masyarakat terhadap energi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
(Shifa Nurhaliza Putri)