Berton menjelaskan, seiring berjalannya waktu, fokus penanganan bencana kini mulai dialihkan dari mitigasi karhutla menuju kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan 2026/2027 diperkirakan berlangsung secara bertahap mulai November hingga Desember 2026, dengan puncaknya diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Kondisi ini makin dinamis dengan terpantaunya pembentukan Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman,sebelah utara Aceh, pada Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB.
"Dampak tidak langsung dari bibit siklon ini dalam 24 jam ke depan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, serta menimbulkan gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di Selat Malaka bagian utara," tutur Berton.
Untuk periode 3 hari ke depan (29–31 Oktober 2026), BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem. Status Siaga (hujan lebat–sangat lebat) berpotensi terjadi di Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.