Rumput laut dikenal dapat menjadi bahan baku untuk berbagai produk, antara lain pangan, agar dan karagenan, farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, hingga bioplastik. Pengembangan tersebut membutuhkan keterhubungan antara sektor hulu dan hilir.
Di dalam negeri, industri pengolahan nonmigas pada kuartal II-2026 tumbuh 5,32 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sektor tersebut juga menyumbang Rp1.102,88 triliun terhadap PDB, 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional, serta 82,40 persen terhadap ekspor nasional.
Keterkaitan dengan rumput laut semakin terlihat pada industri makanan dan minuman yang tumbuh 6,77 persen pada semester I-2026 dan menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas serta 7,16 persen terhadap PDB nasional.
Dengan demikian, pengembangan rumput laut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi komoditas, tetapi juga memasukkannya ke dalam rantai manufaktur melalui pengolahan menjadi produk pangan dan berbagai produk bernilai tambah lainnya.
Arah pengembangan industri rumput laut juga telah dimasukkan ke dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang saat pers rilis tersebut diterbitkan masih dalam proses finalisasi.