Sementara itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi menyatakan, gangguan jiwa masuk dalam tiga besar penyebab beban kesehatan pada kelompok usai remaja hingga dewasa.
"Gangguan jiwa menjadi penyebab beban kesehatan pada seluruh kelompok usia dan menempati peringkat tiga besar pada kelompok usia mulai dari remaja hingga dewasa," ungkap Maria.
Ia memaparkan data WHO yang memperkirakan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dialami sekitar 2,7 persen anak usia 10–14 tahun serta 2,2 persen remaja usia 15–19 tahun.
Sementara itu, data penelitian yang dipublikasi di PubMed menunjukkan prevalensi disleksia berada di kisaran 5–20 persen.
“WHO memperkirakan ADHD dialami sekitar 2,7 persen anak usia 10–14 tahun. Jadi ini cukup banyak dan 2,2 persen remaja usia 15–19 tahun. Ini kalau dikali 20 persen dari penduduk, jumlahnya 3 jutaan. Sementara data penelitian yang dipublikasi dari PubMed itu menyampaikan prevalensi disleksia sekitar 5–20 persen,” beber dia.