sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Hujan Ekstrem Terjadi di Aceh dan Sumut, BMKG Pastikan Bukan Siklon Tropis ARNAB

News editor Binti Mufarida
27/10/2026 14:31 WIB
BMKG mencatat kejadian hujan berintensitas sedang hingga ekstrem yang mengguyur sejumlah wilayah di Aceh dan Sumut bukan karena Siklon Tropis ARNAB.
Hujan Ekstrem Terjadi di Aceh dan Sumut, BMKG Pastikan Bukan Siklon Tropis ARNAB. (Foto: iNews Media Group)
Hujan Ekstrem Terjadi di Aceh dan Sumut, BMKG Pastikan Bukan Siklon Tropis ARNAB. (Foto: iNews Media Group)

Lebih lanjut, Siklon Tropis ARNAB terbentuk di perairan Teluk Benggala pada 26 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. Sistem ini berkembang dari bibit siklon tropis 98B yang telah dipantau sejak 19 Oktober 2026, ketika masih berada di sekitar Laut Andaman. BMKG telah memantau perkembangan sistem tersebut sejak tahap awal, termasuk ketika masih berupa sirkulasi siklonik lemah.

Berdasarkan analisis pada 27 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, Siklon Tropis ARNAB berada di sekitar Teluk Benggala pada koordinat 16,0° LU dan 84,8° BT, di luar wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Sistem tersebut memiliki kecepatan angin maksimum 90 knot atau sekitar 166 km/jam dan tekanan udara minimum 968 hPa dan dalam 24 jam ke depan, ARNAB diprakirakan bergerak ke arah barat - barat laut mulai memasuki daratan India, serta diprakirakan mulai melemah dalam 2 hari ke depan.

“Perkembangan Siklon Tropis ARNAB terus kami pantau melalui analisis data pengamatan, citra satelit, dan model prediksi cuaca. Berdasarkan analisis saat ini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia. Hujan lebat yang terjadi di Aceh dan Sumaetra Utara dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lain yang berkembang di sekitar wilayah tersebut,” kata Andri.

Di sisi lain, BMKG juga mengidentifikasi potensi pembentukan sirkulasi siklonik baru di sekitar Laut Andaman sebelah utara Aceh mulai 27 Oktober 2026. Berdasarkan pemodelan cuaca, peluang penguatan sistem tersebut masih rendah dalam 24 jam ke depan. 

Namun, sirkulasi ini berpotensi membentuk daerah konvergensi atau pertemuan massa udara yang mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan peluang hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah Sumatera bagian utara.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement