IDXChannel – Gangguan operasional penerbangan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas hingga sejumlah bandar udara di Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara. Kabut asap yang menurunkan jarak pandang di sekitar bandara berpotensi menyebabkan keterlambatan hingga pembatalan penerbangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F. Laisa mengatakan, dampak kabut asap pada periode 13–17 Oktober 2026 tidak hanya terjadi di Kalimantan, Papua, dan Sumatera, tetapi juga menjangkau wilayah Sulawesi dan kepulauan Maluku.
"Ditjen Perhubungan Udara meminta penyelenggara bandar udara di wilayah terdampak menerapkan langkah mitigasi," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (18/10/2026).
Di Sulawesi Tengah, bandara yang terdampak kabut asap meliputi Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie di Palu, Bandara Maleo di Morowali, Bandara Syukuran Aminuddin Amir di Luwuk, dan Bandara Sultan Bantilan di Tolitoli.
Di Sulawesi Tenggara, dampak kabut asap terpantau di Bandara Sangia Nibandera di Kolaka dan Bandara Betoambari di Baubau. Sementara itu, di Sulawesi Selatan, bandara terdampak adalah Bandara Toraja di Tana Toraja.
Gangguan juga meluas ke Maluku Utara, yakni Bandara Sultan Babullah di Ternate dan Bandara Oesman Sadik di Labuha. Adapun di Maluku, bandara yang masuk dalam daftar terdampak adalah Bandara Pattimura di Ambon dan Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur.
Di wilayah Papua, bandara terdampak mencakup Bandara Mozes Kilangin di Timika, Bandara Douw Aturure di Nabire, Bandara Wamena, Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Bandara Utarom di Kaimana, serta Bandara Babo di Teluk Bintuni.
Di Kalimantan Barat, kabut asap berdampak terhadap Bandara Supadio di Pontianak dan Bandara Rahadi Oesman di Ketapang. Di Kalimantan Tengah, bandara terdampak meliputi Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, Bandara H. Asan di Sampit, dan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya. Sementara itu, di Kalimantan Utara, gangguan terpantau di Bandara Robert Atty Bessing di Malinau.