IDXChannel - Indeks-indeks utama Wall Street bergerak turun tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (15/9/2026). Ini terjadi akibat tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury), serta ketidakpastian prospek permintaan AI yang membuat investor bersikap menahan diri.
Dilansir dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 313,32 poin atau 0,60 persen menjadi 52.107,88, indeks S&P 500 melemah 10,36 poin atau 0,14 persen ke level 7.609,62, dan indeks Nasdaq Composite merosot 31,97 poin atau 0,11 persen menjadi 26.156,71.
Saham perusahaan pembuat chip justru menguat pada pembukaan hari ini, di mana Nvidia naik lebih dari 1 persen. Padahal, pada kemarin, paling terdampak oleh aksi jual.
Namun, sentimen terhadap saham-saham teknologi raksasa lainnya beragam, di mana Alphabet, Microsoft, dan Apple masing-masing turun kurang dari 1 persen.
Gelombang kekhawatiran terbaru ini dipicu oleh seruan dari perusahaan-perusahaan AI terkemuka untuk memperlambat pengembangan teknologi tersebut dengan alasan keamanan.
Meskipun belum ada kejelasan mengenai bagaimana perlambatan semacam itu akan diterapkan, penurunan harga saham ini menambah sentimen negatif di pasar, terutama di tengah kondisi di mana inflasi yang melampaui target dan kekhawatiran akan kenaikan biaya pinjaman telah membayangi prospek pasar saham.
"Penundaan bukanlah hal yang baik di Wall Street. Segala bentuk perlambatan akan menjadi masalah. Namun, menurut saya saat ini pasar tidak meyakini akan terjadi perlambatan," ujar Pendiri sekaligus Kepala Perdagangan Ekuitas Themis Trading Joe Saluzzi.
"Ada terlalu banyak faktor persaingan, dan beberapa perusahaan ini ingin melantai di bursa (IPO). Anda tidak akan melakukan IPO kecuali jika Anda menunjukkan adanya laba dan pertumbuhan," katanya.
Sementara itu, Federal Reserve diperkirakan akan menaikkan suku bunga, dengan para pelaku pasar memperhitungkan peluang sebesar 93 persen untuk kenaikan suku bunga pada Rabu.
Selain itu, konflik di Timur Tengah menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda, sehingga menjaga harga minyak tetap tinggi dan memperdalam kekhawatiran akan guncangan pasokan.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,9 persen menjadi USD107,73, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan pada harga USD103,64, juga naik 2,2 persen.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun—yang menjadi acuan pasar—mencapai level tertinggi sejak 2007, seiring investor bersiap menghadapi apa yang diperkirakan banyak pihak sebagai langkah awal dari serangkaian kenaikan suku bunga. Terakhir, imbal hasil tersebut naik 4,09 basis poin menjadi 5,0019 persen.
Rangkaian data ekonomi terbaru juga tidak banyak memberikan sentimen positif bagi para investor. Laporan Departemen Tenaga Kerja pekan lalu menunjukkan bahwa harga konsumen meningkat lebih cepat pada bulan Agustus, sementara indikator utama inflasi inti mencatat kenaikan terbesar dalam empat bulan terakhir.
(Dhera Arizona)