sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Ditutup Menguat Seiring Bangkitnya Kembali Sektor Kecerdasan Buatan

Market news editor Kunthi Fahmar Sandy
04/11/2026 06:26 WIB
Wall Street sebagian besar menguat pada hari Selasa seiring dengan bangkitnya kembali sektor kecerdasan buatan (AI).
Wall Street Ditutup Menguat Seiring Bangkitnya Kembali Sektor Kecerdasan Buatan (FOTO:iNews Media Group)
Wall Street Ditutup Menguat Seiring Bangkitnya Kembali Sektor Kecerdasan Buatan (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street sebagian besar menguat pada hari Selasa seiring dengan bangkitnya kembali sektor kecerdasan buatan (AI). 

Dilansir dari laman investing Rabu (4/11/2026), saham perusahaan cip mencatatkan kenaikan untuk pertama kalinya dalam lima sesi, meskipun kekhawatiran seputar pengeluaran untuk AI yang didanai oleh utang masih terus membayangi.

Sorotan utama adalah pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat, yang hasilnya berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga utilitas. Para investor juga mencermati laporan laba terbaru dari sektor teknologi, termasuk hasil kinerja kuartalan Apple.

Pada pukul 14:10 waktu setempat (19:10 GMT), indeks acuan S&P 500 naik 0,5 persen menjadi 7.577,35 poin, sementara indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,9 persen menjadi 25.398,92 poin. 

Sebaliknya, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,3 persen ke level 51.854,34 poin. Sejarah menunjukkan pasar cenderung menguat setelah pemilihan paruh waktu

Pemilihan paruh waktu (midterm) di Amerika Serikat yang telah lama dinantikan kini menjadi sorotan utama. Pertarungan ini menentukan kendali atas dua kamar di Kongres AS, yang saat ini didominasi oleh Partai Republik (partai asal Presiden Donald Trump).

Di sisi lain, masalah keterjangkauan harga diperkirakan menjadi isu sentral saat warga AS mendatangi tempat pemungutan suara. Harga energi melonjak sejak dimulainya ketegangan antara pemerintahan Trump dan Iran, yang memicu kenaikan biaya untuk komoditas seperti bensin dan solar. 

Meski demikian, kuatnya belanja konsumen serta investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) telah membantu menopang pertumbuhan ekonomi AS secara lebih luas.

Sebagian pemilih juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja, serta maraknya pembangunan pusat data berskala besar yang diperlukan untuk mendukung sistem AI mutakhir. Trump sendiri merupakan pendukung kuat industri AI. Dia berpendapat bahwa AS harus mengungguli pesaingnya, China, dalam perlombaan untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Menurut Jim Reid dari Deutsche Bank, indeks acuan S&P 500 selalu mencatatkan kenaikan satu tahun setelah setiap pemilihan umum paruh waktu (midterm election) dari tahun 1946 hingga 2022, dengan rata-rata kenaikan sebesar 14,4 persen. Angka imbal hasil tersebut melampaui rata-rata kenaikan tahunan sebesar 8,1 persen.

"Tahun pemilihan paruh waktu biasanya merupakan periode terlemah dalam siklus empat tahunan. Ketidakpastian seputar hasil politik dan kebijakan mencapai puncaknya menjelang pemilihan, dan pasar cenderung mencapai titik terendah pada musim gugur. Dalam pola pemilihan paruh waktu pada umumnya, titik terendah terjadi pada akhir September," ujar Reid.

"Tahun 2026 memang tidak mengalami penurunan sedalam tahun-tahun pemilihan paruh waktu sebelumnya, namun pasar cenderung stagnan sejak akhir Mei. Jadi, tanda-tanda pelemahan yang lazim terjadi menjelang pemungutan suara tetap terlihat," tutur dia.

Sektor AI kembali bangkit

Di luar ranah politik, Philadelphia Semiconductor Index naik lebih dari 2 persen pada hari Selasa, mencatatkan sesi positif pertama dalam lima hari terakhir. Sebagian besar saham dari kelompok 'Magnificent Seven' juga mengalami kenaikan.

Sektor kecerdasan buatan (AI) telah menjadi tema dominan di pasar belakangan ini. Bulan Oktober menjadi sorotan karena adanya laporan kinerja kuartalan dari perusahaan-perusahaan terbesar di bidang ini, yakni Meta Platforms, Alphabet, Microsoft, dan Amazon. 

Keempat perusahaan tersebut dikenal sebagai 'AI hyperscalers'—perusahaan yang menginvestasikan miliaran dolar untuk pusat data guna mendukung pengembangan serta pelatihan model-model AI.

Laporan dari keempat perusahaan tersebut gagal meredakan kekhawatiran terkait pengeluaran yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk kecerdasan buatan (AI). Secara khusus, arus kas bebas negatif (negative free cash flow) pada Meta, Alphabet, dan Amazon melonjak drastis. Meta dan Microsoft juga telah mengumumkan penawaran ekuitas dan obligasi dalam jumlah besar untuk menggalang dana bagi ambisi AI mereka; langkah serupa pun diambil oleh Oracle, penyedia layanan cloud skala besar (hyperscaler) lainnya.

"Tidak mengherankan jika pasar merasa waspada terhadap utang yang menopang lonjakan AI. Sebagian besar pendanaan disediakan oleh sektor kredit swasta (private credit), dan mengingat industri tersebut memiliki tantangan reputasinya sendiri, para investor menjadi sangat sensitif terhadap eksposur mereka melalui AI," ujar Rami Cassis, pimpinan di Parabellum Investments, kepada Investing.com.

(kunthi fahmar sandy)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement