Namun, inflasi AS yang masih tinggi serta sikap dua pejabat The Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga lebih lanjut menunjukkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter masih terbuka.
Kondisi tersebut perlu dicermati karena berpotensi menopang dolar AS sekaligus membatasi aliran modal ke pasar negara berkembang.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada publikasi laporan keuangan emiten untuk kuartal III-2026.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai tren IHSG masih bearish karena indeks berada di bawah moving average 20 hari (MA20) di level 5.731 dan moving average 200 hari (MA200) di level 6.899.
Indikator MACD juga masih berada di zona negatif, meski penyusutan histogram mengindikasikan tekanan bearish mulai mereda.