sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

SINI Pacu Transformasi, Bersiap Jadi Pemain Batu Bara Menengah

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
02/10/2026 11:24 WIB
PT Singaraja Putra Tbk (SINI) tengah mengubah arah bisnisnya menjadi perusahaan batu bara dengan skala produksi menengah.
SINI Pacu Transformasi, Bersiap Jadi Pemain Batu Bara Menengah. (Foto: iStock)
SINI Pacu Transformasi, Bersiap Jadi Pemain Batu Bara Menengah. (Foto: iStock)

IDXChannel – PT Singaraja Putra Tbk (SINI) tengah mengubah arah bisnisnya menjadi perusahaan batu bara dengan skala produksi menengah, setelah aksi korporasi dan akuisisi aset tambang memperkuat struktur permodalan perseroan.

Analis UOB Kay Hian Benyamin Mikael dan Alden Gabriel Lam dalam riset pada 2 Oktober 2026 menyebut rights issue senilai Rp3,6 triliun yang dilakukan SINI pada Juli 2026 telah memperbaiki kondisi neraca perseroan.

Dana tersebut diperoleh melalui penerbitan 721,5 juta saham baru dengan harga Rp5.000 per saham.

Sekitar Rp1,53 triliun dari dana rights issue dialokasikan untuk mengakuisisi Kemilau Mulia Sakti (KMS), Rp900 miliar untuk pelunasan utang lebih awal, sedangkan sisanya digunakan sebagai modal kerja.

Langkah tersebut menjadi penting karena ekuitas SINI sebelumnya berada di zona negatif.

Per kuartal I-2026 (1Q26), ekuitas perseroan tercatat minus Rp676 miliar. Namun, setelah transaksi, posisi ekuitas menjadi positif secara pro forma.

Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mencabut suspensi perdagangan saham SINI pada 7 Juli 2026 setelah penghentian perdagangan selama enam hari.

Perubahan strategi itu semakin terlihat dari ekspansi produksi batu bara perseroan.

Melalui KMS, SINI mengakuisisi 99,995 persen saham KMS dari PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp1,73 triliun, atau sekitar 6 persen di bawah valuasi independen sebesar Rp1,84 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi PTRO, aset tersebut memiliki sumber daya batu bara sebesar 164,1 juta ton dan cadangan tertambang 82 juta ton di area seluas 4.776 hektare.

Tambang tersebut memiliki stripping ratio jangka panjang 6,7 kali serta izin usaha pertambangan khusus operasi produksi (IUP-OP) yang berlaku hingga Juli 2038.

Manajemen menargetkan produksi Cristian Eka Pratama (CEP) mencapai 2,2 juta ton pada 2026, kemudian meningkat menjadi 3,6 juta ton per tahun pada 2027 dan 5 juta ton pada 2028.

Selain itu, Persada Kapuas Prima (PKP) ditargetkan memproduksi 1,5 juta ton pada 2026, sementara Pasir Bara Prima (PBP) membidik produksi 0,9 juta ton.

Pesona Bara Cakrawala (PBC) ditargetkan mencapai produksi 6 juta ton pada 2031, sedangkan Cakrawala Bara Persada (CBP) ditargetkan memproduksi 1 juta ton per tahun mulai 2027.

Dengan asumsi produksi PKP dan PBP tetap, sementara CEP, PBC, dan CBP tumbuh sesuai panduan manajemen, total produksi batu bara SINI diperkirakan mencapai 14,4 juta ton pada 2031. Proyeksi tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 43,1 persen dalam lima tahun.

SINI juga memperkirakan KMS membukukan pendapatan Rp119 miliar atau sekitar USD6,6 juta pada 3Q26, yang menjadi kuartal pertama konsolidasi KMS.

Sebelumnya, dalam keterbukaan informasi transaksi pada April 2026, pendapatan KMS untuk sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai USD52 juta.

Di sisi lain, SINI telah melepas bisnis kayunya melalui divestasi 54 persen saham Interkayu Nusantara (IKN) senilai Rp31,8 miliar kepada pembeli individu pihak ketiga.

IKN bergerak di bidang pengolahan kayu, sehingga transaksi tersebut menandai keluarnya SINI dari bisnis kayu.

Divestasi itu sekaligus menghilangkan bisnis dengan margin tipis yang sebelumnya menghasilkan pendapatan sekitar Rp380 miliar hingga Rp430 miliar per tahun.

Dana hasil penjualan akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional, termasuk belanja modal dan pembayaran kewajiban, meski manajemen belum merinci alokasinya.

Dengan keluarnya IKN, portofolio SINI kini praktis bertumpu pada batu bara.

Dalam tanggapan kepada BEI pada 29 September 2026, perseroan menyatakan strategi 2026 mencakup peningkatan kapasitas operasi secara bertahap serta pengembangan proyek batu bara melalui PBP, PKP, PBC, dan CBP, ditambah CEP setelah akuisisi KMS.

Akuisisi CEP juga memperluas basis tambang SINI dari Kalimantan Tengah ke Kalimantan Timur.

Namun, realisasi peningkatan produksi tetap bergantung pada kesiapan operasional dan kebutuhan pendanaan masing-masing proyek.

Di tengah perubahan tersebut, SINI juga berhadapan dengan potensi perubahan pengendali.

Setelah rights issue, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) milik Prajogo Pangestu secara tidak langsung menguasai 27,78 persen saham SINI, melalui PTRO sebesar 19,88 persen dan Kreasi Jasa Persada sebesar 7,90 persen.

Pada 4 September 2026, CUAN mengonfirmasi tengah bernegosiasi dengan pemegang saham SINI mengenai mekanisme, harga, dan waktu pelaksanaan pengambilalihan.

CUAN menyatakan transaksi tersebut ditujukan untuk membangun grup pertambangan dan jasa pertambangan yang terintegrasi serta akan melakukan mandatory tender offer (MTO) sebagai calon pengendali baru.

Belum ada tanggal penyelesaian pengambilalihan yang diumumkan. Sementara itu, kepemilikan Hapsoro sebagai pemilik awal SINI terdilusi menjadi 3,89 persen.

Dari sisi valuasi, saham SINI saat ini diperdagangkan pada enterprise value (EV) terhadap cadangan sebesar USD5,70 per ton.

Angka tersebut berada di atas rata-rata perusahaan sejenis yang mencapai sekitar USD4 per ton. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7
Advertisement
Advertisement