IDXChannel – Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turun tajam pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah perseroan merilis kinerja keuangan kuartal III-2026 (Q3-2026) yang menunjukkan penurunan laba bersih secara kuartalan.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.25 WIB, saham AADI merosot 6,10 persen ke level Rp10.775 per unit.
Nilai transaksi mencapai Rp301,81 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 28,06 juta saham.
Secara teknikal, saham AADI masih berada dalam tren konsolidasi (ranging), dengan area support di kisaran Rp10.200-Rp10.700 dan resistance Rp11.000-Rp11.300.
Berdasarkan laporan keuangan, AADI membukukan laba bersih sebesar USD209 juta pada kuartal III-2026.
Angka tersebut turun 37 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/ QoQ), tetapi masih tumbuh 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).
Dengan demikian, laba bersih AADI sepanjang sembilan bulan pertama 2026 mencapai USD683 juta, meningkat 16 persen YoY.
Penurunan laba bersih secara kuartalan terutama dipengaruhi oleh melemahnya pendapatan, kontraksi margin laba kotor, serta kenaikan beban pajak yang berkaitan dengan divestasi Kestrel Coal Group.
Investment Analyst Stockbit Christian William Munaba menilai, penurunan laba bersih AADI pada kuartal III-2026 belum sepenuhnya mencerminkan pelemahan kinerja operasional perseroan.
Dari sisi operasional, pendapatan AADI turun 6 persen QoQ seiring melemahnya pendapatan dari segmen penambangan batu bara dan logistik.
Margin laba kotor juga menyusut menjadi 29,7 persen dari 34,9 persen pada kuartal II-2026, salah satunya akibat kenaikan biaya royalti.
Laba usaha tercatat turun 21 persen QoQ menjadi USD359 juta. Margin laba usaha ikut menyusut menjadi 25,4 persen dari 30,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, laba usaha kumulatif selama sembilan bulan mencapai sekitar USD1 miliar, tumbuh 32 persen YoY.
Pencapaian tersebut setara dengan 76 persen dari estimasi konsensus untuk 2026, sehingga dinilai masih sejalan dengan ekspektasi.
Di sisi lain, beban pajak AADI meningkat 87 persen QoQ. Kenaikan tersebut berkaitan dengan transaksi penjualan 47,99 persen saham di Kestrel Coal Group yang telah diselesaikan pada kuartal III-2026.
Dari transaksi tersebut, AADI membukukan keuntungan sebesar USD21,5 juta dan menerima dana tunai sekitar USD735 juta. Namun, perseroan juga mencatatkan beban pajak sekitar USD79,3 juta yang bersifat tidak berulang (one-off).
Volume Penjualan Batu Bara Tertekan Kendala Logistik
Dari sisi operasional, volume penjualan batu bara AADI pada kuartal III-2026 tercatat sebesar 17,9 juta ton, turun 3 persen QoQ.
Stockbit memperkirakan penurunan tersebut berkaitan dengan gangguan logistik pengangkutan batu bara dari tambang menuju pelabuhan akibat berkurangnya debit air Sungai Barito seiring fenomena El Nino.
Sementara itu, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara AADI turun tipis 1 persen QoQ menjadi USD75,2 per ton. Pergerakan tersebut berlawanan dengan harga acuan batu bara ICI-3 yang meningkat 6 persen QoQ menjadi USD86,7 per ton.
Prospek Kinerja dan Potensi Dividen Spesial
Ke depan, Stockbit memperkirakan harga dan permintaan batu bara berpeluang bertahan relatif tinggi.
Kondisi tersebut ditopang oleh krisis energi akibat konflik Timur Tengah serta peningkatan kebutuhan batu bara menjelang musim dingin pada akhir tahun.
AADI dinilai perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk mendorong kenaikan ASP pada kuartal IV-2026.
Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati risiko gangguan logistik akibat penurunan debit sungai di Kalimantan serta kenaikan biaya bahan bakar.
Dengan mempertimbangkan pencapaian operasional hingga September 2026, Stockbit menilai AADI masih berpotensi memenuhi estimasi konsensus kinerja sepanjang 2026.
Selain prospek operasional, investor juga berpotensi memperoleh dividen spesial setelah divestasi Kestrel.
Meski demikian, dana hasil transaksi tersebut tidak secara otomatis seluruhnya dialokasikan untuk pembagian dividen.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada 1 Oktober 2026, AADI juga membuka opsi penggunaan dana hasil divestasi untuk pengembangan bisnis dan penguatan struktur permodalan, termasuk melalui pelunasan sebagian pinjaman. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.