Margin laba kotor juga menyusut menjadi 29,7 persen dari 34,9 persen pada kuartal II-2026, salah satunya akibat kenaikan biaya royalti.
Laba usaha tercatat turun 21 persen QoQ menjadi USD359 juta. Margin laba usaha ikut menyusut menjadi 25,4 persen dari 30,3 persen pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, laba usaha kumulatif selama sembilan bulan mencapai sekitar USD1 miliar, tumbuh 32 persen YoY.
Pencapaian tersebut setara dengan 76 persen dari estimasi konsensus untuk 2026, sehingga dinilai masih sejalan dengan ekspektasi.
Di sisi lain, beban pajak AADI meningkat 87 persen QoQ. Kenaikan tersebut berkaitan dengan transaksi penjualan 47,99 persen saham di Kestrel Coal Group yang telah diselesaikan pada kuartal III-2026.