sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Sepekan Melemah 0,83 Persen Dibayangi Geopolitik dan Isu El Nino

Market news editor Anggie Ariesta
19/09/2026 14:05 WIB
Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan ini masih berada dalam tekanan, memperpanjang tren pelemahan hingga tujuh sesi perdagangan berturut-turut.
Rupiah Sepekan Melemah 0,83 Persen Dibayangi Geopolitik dan Isu El Nino (Foto: dok Freepik)
Rupiah Sepekan Melemah 0,83 Persen Dibayangi Geopolitik dan Isu El Nino (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang pekan ini masih berada dalam tekanan, memperpanjang tren pelemahan hingga tujuh sesi perdagangan berturut-turut di tengah beragam sentimen eksternal dan domestik.

Mengutip data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Jumat (18/9/2026) ditutup melemah tipis 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.758 per USD dari posisi sebelumnya Rp17.753 per USD.

Secara mingguan, rupiah melemah 0,83 persen dibandingkan posisi penutupan Jumat (11/9/2026) di level Rp17.611 per USD.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp17.745 per USD pada Jumat (18/9/2026), naik 8 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.753 per USD. 

Namun, jika dibandingkan dengan posisi Jumat pekan sebelumnya sebesar Rp17.611 per USD, rupiah berdasarkan JISDOR masih melemah sekitar 0,76 persen secara mingguan.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah sepanjang pekan ini turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.

Menurut Ibrahim, situasi tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak global di tengah konflik yang sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz.

"Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu," kata Ibrahim dalam risetnya.

Meski demikian, prospek pasokan minyak masih belum pasti. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran pada Jumat menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo telah diserang saat mencoba melakukan pelayaran yang disebut ilegal melintasi Selat Hormuz, menurut laporan media pemerintah Iran. Perkembangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi.

Di sisi lain, perkembangan diplomatik juga menjadi perhatian pasar. Presiden AS Donald Trump menyatakan kepada Axios bahwa dirinya hampir mengambil keputusan besar terkait kemungkinan kembali melancarkan aksi militer berskala besar terhadap Iran.

China juga meningkatkan upaya diplomatik. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Washington dan Teheran menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan konsultasi dengan pejabat China dan Pakistan.

Defisit APBN Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, kondisi fiskal juga menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar. Realisasi APBN hingga 31 Agustus 2026 mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Defisit tersebut berasal dari pendapatan negara yang mencapai Rp2.055,6 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun. Pada periode yang sama, keseimbangan primer tercatat positif Rp154 triliun.

Untuk keseluruhan 2026, pemerintah memperkirakan defisit APBN berada di sekitar 2,85 persen dari PDB atau sekitar Rp734,3 triliun. Angka tersebut sedikit di atas target awal APBN sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Harga Minyak dan El Nino

Selain geopolitik dan kondisi fiskal, perkembangan harga minyak mentah dunia serta risiko El Nino juga menjadi perhatian pasar.

Memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi menjaga harga minyak pada level tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap kebutuhan impor energi dan neraca perdagangan.

Di saat yang sama, fenomena El Nino meningkatkan risiko panas dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga terus mengingatkan mengenai kondisi kemarau dan potensi kekeringan di sejumlah wilayah hingga akhir 2026.

"Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur pangan dan inflasi," tutur Ibrahim.

Pasar Nantikan RDG BI

Memasuki pekan depan, pelaku pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. Selain keputusan suku bunga, pergerakan imbal hasil US Treasury (UST) juga akan menjadi perhatian pasar.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (21/9/2026) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Dia memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.750-Rp17.800 per USD.

Sementara untuk perdagangan sepanjang pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.650-Rp18.000 per USD.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4 5
Advertisement
Advertisement