IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10/2026) diproyeksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per USD.
Pelemahan lanjutan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal berupa memanasnya suhu politik di Washington dan penantian rilis data ekonomi krusial AS, serta tekanan domestik akibat beban pengadaan impor energi nasional.
Prospek pelemahan tersebut menyusul performa rupiah pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026) yang terkoreksi 35 poin ke level Rp17.917 per USD.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda akibat ketidakpastian pasar global yang kian tinggi.
"Mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp17.960 per USD. Sementara untuk pergerakan sepanjang pekan ini, rupiah berpeluang bergulir di kisaran Rp17.750 hingga Rp18.050 per USD," ujar Ibrahim, dalam risetnya.
Ibrahim menjelaskan, pergerakan nilai tukar akan sangat dibayangi oleh sentimen eksternal, khususnya eskalasi politik di AS menjelang pemilihan paruh waktu.
Situasi memanas usai mantan Presiden AS Donald Trump melontarkan serangan terbuka terhadap Partai Demokrat dalam kampanye di Ohio, dengan menjanjikan bantuan keuangan jika Partai Republik menang dan mengancam enggan bekerja sama bila negara bagian tersebut dimenangkan rivalnya.
Kondisi tersebut kian menekan minat investor pada aset berisiko karena pelaku pasar di seluruh dunia juga bersikap defensif menantikan rilis rangkaian indikator ekonomi utama AS pekan ini.
"Pasar saat ini sedang menanti data ISM Services PMI, klaim ketenagakerjaan mingguan, rilis risalah rapat FOMC terakhir, serta indeks sentimen konsumen dari University of Michigan. Rangkaian rilis data ini membuat dolar AS cenderung perkasa dan menahan ruang penguatan mata uang negara berkembang," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari terganggunya rantai pasok energi setelah Indonesia kehilangan 25 persen sumber impor bahan bakar minyak (BBM) akibat lonjakan konflik di Timur Tengah. Menipisnya pasokan ini memaksa pemerintah dan Pertamina memburu stok langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan cadangan karena mekanisme lelang reguler minim peserta.