Meski demikian, Bank Dunia memberikan catatan kewaspadaan terkait perlambatan aktivitas manufaktur nasional, tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) yang merosot ke level 49,3 pada Agustus dan penurunan indeks keyakinan konsumen ke angka 116,8 pada Juli.
Selain itu, pelebaran defisit memicu kekhawatiran atas tren keberlanjutan fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings), setelah sentimen pasar sempat memburuk pada Januari akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan arus modal keluar portofolio yang mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I-2026.
Tantangan struktural lain datang dari proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia yang diperkirakan Bank Dunia melebar menjadi 1,5 persen dari PDB pada 2026. Dinamika fundamental neraca eksternal ini diproyeksikan akan menahan ruang penguatan rupiah dalam jangka menengah.
"Penurunan PMI manufaktur ke zona kontraksi dan proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan hingga 1,5 persen PDB tetap perlu diwaspadai sebagai penahan laju penguatan rupiah. Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, kami memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara Rp17.750 hingga Rp18.050 per USD," ujarnya.
(Dhera Arizona)