IDXChannel - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (6/10/2026) ditutup menguat 18 poin ke level Rp17.899 per USD. Apresiasi mata uang Garuda ini terdorong oleh perpaduan sentimen eksternal berupa pelemahan laju inflasi AS yang meredam agresivitas The Fed, serta sentimen domestik menyusul revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.
Laju mata uang Garuda berhasil membalikkan arah pelemahan setelah data inflasi Amerika Serikat memberi ruang kelegaan bagi pasar keuangan negara berkembang. Namun, momentum penguatan ini dinilai masih rentan tertahan mengingat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global masih memicu volatilitas transaksi harian.
"Rilis inflasi PCE Amerika Serikat yang melandai di bawah ekspektasi menekan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan akhir Oktober mendatang. Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.940 per USD," ujar Pengamat Ekonomi Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (7/10/2026).
Secara eksternal, kata dia, laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS edisi Agustus berada di bawah proyeksi pasar, diikuti revisi turun pada data periode sebelumnya. Rangkaian angka ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih jinak tersebut secara signifikan mengikis ekspektasi pengetatan moneter lanjutan oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC tanggal 27–28 Oktober.
Pelaku pasar saat ini membatasi akumulasi valuta asing sembari mengantisipasi sinyal kebijakan moneter dari notula rapat bank sentral AS. Kehati-hatian investor tersebut kian dipertegas oleh rilis sejumlah indikator ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang dijadwalkan terbit dalam waktu dekat.