Macquarie menyoroti kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal, termasuk defisit anggaran, harga BBM bersubsidi yang jauh di bawah harga pasar, serta prioritas belanja yang dinilai berorientasi pada subsidi populis.
Kondisi tersebut, ditambah kenaikan imbal hasil US Treasury dan potensi arus keluar modal asing, dapat menahan penurunan suku bunga acuan pasar.
Macquarie kini menggunakan asumsi suku bunga bebas risiko (risk-free rate) sebesar 8 persen, turun dari asumsi sebelumnya sebesar 9 persen, tetapi memperingatkan risiko kenaikan kembali ke 9 persen.
Asumsi suku bunga yang lebih tinggi untuk periode lebih panjang itu juga telah diperhitungkan dalam model proyeksi laba Macquarie.
Di sisi lain, tingginya imbal hasil dividen alias dividend yield saham perbankan belum tentu bertahan lama.