sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
28/09/2026 06:49 WIB
Harga minyak mentah berpotensi menghadapi tekanan pada awal pekan setelah pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran. (Foto: Magnific)
Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini, Pasar Cermati Negosiasi AS-Iran. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak mentah berpotensi menghadapi tekanan pada awal pekan setelah pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong pasar mengurangi premi risiko perang.

Namun, risiko pasokan masih membayangi karena lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal.

Mengutip analisis FX Empire oleh James Hyerczyk, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) November ditutup di USD92,41 per barel pada Jumat (25/9/2026), turun USD2,20 atau 2,33 persen.

Sementara Brent Desember ditutup di USD97,44 per barel, turun USD2,78 atau 2,77 persen.

Tekanan harga terjadi setelah muncul pembicaraan gencatan senjata AS-Iran yang membuka kemungkinan penyelesaian bertahap konflik.

Namun, Iran masih menyatakan tidak akan memberikan kelonggaran terkait program nuklirnya meskipun AS menerima proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.

Hyerczyk menilai pasar kini menghadapi perbedaan antara perkembangan diplomatik dan kondisi fisik pasokan minyak.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun menjadi hanya sembilan kapal pada Kamis, dari 14 kapal sehari sebelumnya dan rata-rata 10 hari sebanyak 18 kapal. Sebelum perang, sekitar 125 kapal komersial berukuran besar biasanya melintasi selat tersebut setiap hari.

Data Kpler juga menunjukkan 33,7 juta barel minyak mentah keluar melalui Hormuz pada pekan yang dimulai 20 September, dengan 19 kapal tanker mengangkut volume tersebut.

Jumlah ini relatif sejalan dengan pekan sebelumnya, tetapi penurunan jumlah kapal menunjukkan aktivitas pelayaran masih jauh dari normal.

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari pasar produk. Kontrak bensin AS turun sekitar 4 persen pada Jumat, sementara pasar mempertimbangkan kemungkinan AS melarang ekspor diesel.

Menurut analis Ritterbusch and Associates, kebijakan tersebut dapat menekan margin kilang dan berpotensi membuat pengolah minyak mengurangi pemrosesan minyak mentah.

Di sisi lain, gangguan terhadap pasokan masih menjadi faktor penahan penurunan harga. Serangan Houthi telah mengganggu sejumlah aliran minyak Arab Saudi, sementara serangan drone juga sempat menghentikan operasi kilang Novoshakhtinsk di Rusia.

Untuk WTI, Hyerczyk melihat tren utama masih naik meski tren jangka pendek berada dalam tekanan. Level USD95,18-USD96,72 menjadi area resistance penting.

Jika harga mampu kembali ke zona tersebut, momentum kenaikan dapat menguat, sedangkan kegagalan menembusnya meningkatkan risiko terbentuknya lower high di sekitar USD96,78.

Di sisi bawah, support WTI berada di USD90,12-USD87,39. Tren utama baru berubah menjadi turun jika harga menembus level USD78,55.

Sementara itu, Brent menghadapi resistance pada USD99,20-USD101,50. Menurut Hyerczyk, harga perlu menembus USD99,20 untuk membuka ruang menuju USD101,50 dan level tertinggi utama USD104,71.

Namun, terbentuknya lower high di USD102,39 dapat menjadi sinyal meningkatnya tekanan jual.

Support Brent berada di USD93,80-USD91,22, sementara tren utama berpotensi berubah menjadi turun jika harga menembus USD93,68. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement