Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari pasar produk. Kontrak bensin AS turun sekitar 4 persen pada Jumat, sementara pasar mempertimbangkan kemungkinan AS melarang ekspor diesel.
Menurut analis Ritterbusch and Associates, kebijakan tersebut dapat menekan margin kilang dan berpotensi membuat pengolah minyak mengurangi pemrosesan minyak mentah.
Di sisi lain, gangguan terhadap pasokan masih menjadi faktor penahan penurunan harga. Serangan Houthi telah mengganggu sejumlah aliran minyak Arab Saudi, sementara serangan drone juga sempat menghentikan operasi kilang Novoshakhtinsk di Rusia.
Untuk WTI, Hyerczyk melihat tren utama masih naik meski tren jangka pendek berada dalam tekanan. Level USD95,18-USD96,72 menjadi area resistance penting.
Jika harga mampu kembali ke zona tersebut, momentum kenaikan dapat menguat, sedangkan kegagalan menembusnya meningkatkan risiko terbentuknya lower high di sekitar USD96,78.