"Berdasarkan data terkini per akhir Oktober 2026, total obligasi dan sukuk yang berwawasan keberlanjutan dengan denominasi rupiah telah mencapai nilai sekitar Rp89 triliun, didukung landasan regulasi OJK yang terus berkembang untuk memperluas instrumen pembiayaan hijau di Indonesia," kata Kadhafi.
Sebagai lembaga penilai harga efek yang terdaftar di OJK, PHEI menyediakan sarana indeks ini untuk memberikan transparansi pergerakan harga bagi pelaku pasar dan emiten penerbit. Ketersediaan data acuan tersebut sekaligus memicu peluang diversifikasi produk investasi baru yang dapat diserap oleh para manajer investasi.
"Kami meluncurkan Indonesia ESG Bond Index yang terdiri dari dua indeks, yaitu ID ESG Bond Total Return Index dan ID ESG Bond Clean Price Index, dirancang untuk melengkapi ketersediaan benchmark bagi investor dalam memantau kinerja portofolio sekaligus membuka peluang penerbitan produk investasi berbasis indeks di masa mendatang," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iding Pardi menekankan, pihaknya sejalan dengan inisiatif tersebut di mana otoritas bursa memandang instrumen pembiayaan hijau sebagai jembatan strategis untuk mentransformasi sektor riil menuju ekonomi rendah karbon. Kebutuhan modal industri untuk peremajaan mesin ramah lingkungan kini dapat dipertemukan langsung dengan ketersediaan likuiditas pemodal institusi.
"Perusahaan membutuhkan investasi untuk meningkatkan efisiensi energi, menggunakan teknologi yang bersih, maupun memperluas manfaat sosial, sementara investor membutuhkan investasi yang kredibel dan pilihan instrumen yang beragam. Di sinilah pasar modal Indonesia memiliki peran penting mempertemukan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan berbasis ESG dengan investor untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan," tutur Iding dalam kesempatan yang sama.