Sebaliknya, pendapatan penyewaan kantor turun 11 persen menjadi Rp187 miliar dari sebelumnya Rp211 miliar. Secara keseluruhan, retail leasing menyumbang 60 persen terhadap total pendapatan, hotel dan serviced apartment 22 persen, serta office leasing 4 persen.
Di sisi lain, pendapatan dari pengembangan properti atau development revenue turun 25 persen menjadi Rp770 miliar dari Rp1,02 triliun. Penurunan ini sejalan dengan marketing sales yang terkoreksi 10 persen menjadi Rp811 miliar selama sembilan bulan pertama 2026. Sebanyak 49 persen dari nilai penjualan tersebut berasal dari program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Dari sisi profitabilitas, laba bruto Pakuwon Jati meningkat 4 persen menjadi Rp2,96 triliun. EBITDA juga tumbuh 4 persen menjadi Rp2,86 triliun. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 16 persen menjadi Rp1,78 triliun, dipengaruhi kerugian selisih kurs dan penyesuaian nilai investasi.
Jika kedua faktor tersebut dikecualikan, laba bersih yang disesuaikan atau adjusted net income justru tumbuh 5 persen menjadi Rp2,13 triliun. Perhitungan tersebut mengecualikan kerugian selisih kurs sebesar Rp45 miliar dan kerugian penyesuaian nilai investasi sebesar Rp304 miliar.
Hingga September 2026, perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp780 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung sejumlah proyek strategis, antara lain pembangunan Pakuwon Mall Surabaya Tahap 5, Superblok Pakuwon Mall Bekasi, dan Kota Kasablanka Tahap 4 di Jakarta.
(Rahmat Fiansyah)