"Meskipun IHSG terkoreksi ke level 6.071,14 dan investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp10,24 triliun, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik terpantau tetap manageable," tutur Friderica.
Tekanan global menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 6,96 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan merosot 29,79 persen ytd. Aksi jual bersih pemodal luar negeri tercatat Rp10,24 triliun, berbalik arah dari posisi Agustus 2026 yang membukukan beli bersih (net buy) Rp1,19 triliun.
Namun, rata-rata bid-ask spread saham relatif terjaga stabil di level 1,20 persen dibanding bulan sebelumnya 1,17 persen, kendati Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) termoderasi menjadi Rp14,94 triliun dari Agustus sebesar Rp15,86 triliun.
Dinamika serupa terjadi di pasar obligasi, ditandai penurunan tipis Indonesia Composite Bond Index (ICBI) sebesar 0,23 persen mtm dan 0,41 persen ytd ke posisi 439,05. Rata-rata imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) terkerek naik 14,12 basis poin mtm seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global, dengan net sell investor asing di pasar SBN yang terbatas sebesar Rp0,34 triliun mtm (Agustus 2026: net buy Rp15,35 triliun).
Sebaliknya, aliran dana pemodal asing di pasar EBUS korporasi membukukan net buy senilai Rp0,91 triliun mtm, membalikkan posisi net sell Rp0,02 triliun pada bulan sebelumnya.