sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Musim Kinerja Keuangan Q3-2026 Bergulir, Adu Pertumbuhan Laba Emiten Lintas Sektor

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
01/11/2026 13:10 WIB
Musim kinerja keuangan emiten untuk periode sembilan bulan pertama 2026 masih terus bergulir.
Musim Kinerja Keuangan Q3-2026 Bergulir, Adu Pertumbuhan Laba Emiten Lintas Sektor. (Foto:
Musim Kinerja Keuangan Q3-2026 Bergulir, Adu Pertumbuhan Laba Emiten Lintas Sektor. (Foto:

IDXChannel – Musim kinerja keuangan emiten untuk periode sembilan bulan pertama 2026 masih terus bergulir.

Sejumlah perusahaan telah mencatatkan pertumbuhan laba signifikan, mulai dari sektor batu bara, emas, perbankan, hingga konsumer.

Namun, data yang terkumpul sejauh ini belum mencakup seluruh emiten sehingga peta kinerja laba hingga kuartal III-2026 (Q3-2026) atau sembilan bulan pertama 2026 (9M26) masih berpotensi berubah seiring masuknya laporan dan pembaruan data berikutnya.

Berdasarkan rekapitulasi sementara Sinarmas Sekuritas per 30 Oktober 2026 sekitar pukul 15.52 WIB, sejumlah emiten mencatatkan pertumbuhan laba hingga ratusan persen. Salah satu yang paling mencolok berasal dari industri rokok.

GGRM hingga PTBA

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan laba bersih Rp4,52 triliun sepanjang Januari-September 2026, melonjak 307 persen dibandingkan Rp1,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga mencatat laba Rp6,51 triliun, tumbuh 44 persen, sedangkan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) membukukan laba Rp495,8 miliar atau meningkat 74 persen.

Di sektor batu bara, sejumlah pemain besar turut mencatatkan pertumbuhan laba. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membukukan laba bersih USD516,55 juta atau setara Rp9,2 triliun, melonjak 71,28 persen dibandingkan USD301,59 juta pada sembilan bulan pertama 2025.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) meraih laba USD683,33 juta atau sekitar Rp12,2 triliun. Perolehan tersebut meningkat 16,35 persen dibandingkan USD587,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan lebih tinggi dicatatkan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dengan laba bersih Rp4,41 triliun atau melesat 217 persen dari Rp1,39 triliun.

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membukukan laba USD589,68 juta, tumbuh 13 persen, sedangkan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) mencatat kenaikan 57 persen menjadi USD56,17 juta.

Di sektor emas, PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) mencatat laba Rp8,84 triliun, tumbuh 48 persen dibandingkan Rp5,97 triliun.

PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) membukukan lonjakan laba 660 persen menjadi USD196,16 juta, sedangkan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mencatat pertumbuhan 56 persen menjadi Rp898,87 miliar.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak merata. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membukukan laba USD23,94 juta, turun 37 persen dibandingkan USD37,91 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan juga terlihat pada PT United Tractors Tbk (UNTR). Emiten yang memiliki bisnis pertambangan batu bara melalui anak usahanya tersebut mencatat laba bersih Rp4,47 triliun, anjlok 61 persen dibandingkan Rp11,48 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Sektor perkebunan juga mencatatkan kinerja positif. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan laba Rp3,51 triliun, meningkat 31 persen.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat laba Rp1,91 triliun atau melonjak 79 persen, sementara PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) meraih laba Rp1,47 triliun, tumbuh 11 persen.

Kinerja positif juga terlihat pada emiten perkebunan milik Haji Isam. PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mencatatkan laba bersih Rp349,27 miliar, tumbuh 56 persen dibandingkan Rp224 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) membukukan laba bersih Rp135,44 miliar, naik 34 persen dari Rp101,43 miliar.

BMRI dan BBCA Catat Laba Terbesar di Perbankan

Pada sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi dua emiten dengan perolehan laba terbesar dalam daftar sementara tersebut.

BMRI membukukan laba Rp45,5 triliun, tumbuh 21 persen, sedangkan BBCA mencatat Rp45,22 triliun atau meningkat 4 persen.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga mencatat pertumbuhan laba 7 persen menjadi Rp16,12 triliun.

Kendati demikian, sejumlah bank lain masih mengalami tekanan. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat penurunan laba 15 persen menjadi Rp4,49 triliun, sedangkan PT Bank Permata Tbk (BNLI) turun 11 persen menjadi Rp2,57 triliun.

Di sektor konsumer, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan laba Rp4,2 triliun, naik 26 persen. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatat laba Rp2,43 triliun atau tumbuh 31 persen, sementara PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) membukukan kenaikan 49 persen menjadi Rp1,43 triliun.

Sementara itu, sektor teknologi mencatat perubahan kinerja yang menarik. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba Rp1,16 triliun, berbalik dari rugi Rp780 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbeda dengan GOTO, kinerja PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) justru berbalik merugi. BUKA mencatatkan rugi bersih Rp880 miliar pada sembilan bulan pertama 2026, berbanding laba bersih Rp2,9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga mencatat pertumbuhan laba 84 persen menjadi Rp478,22 miliar.

Di sektor properti, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) membukukan laba Rp1,94 triliun, naik 146 persen. PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) mencatat pertumbuhan 187 persen menjadi Rp1,49 triliun, sedangkan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan kenaikan laba 273 persen menjadi Rp216,4 miliar.

Emiten Infrastruktur hingga Transportasi Catat Pertumbuhan Beragam

Di sektor infrastruktur, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) membukukan laba bersih Rp2,66 triliun, relatif stabil meski turun 3 persen dibandingkan Rp2,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) mencatatkan rugi bersih Rp266,82 miliar, membengkak 156 persen dari rugi Rp104,39 miliar.

Pada sektor barang industri, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) mencatatkan laba bersih Rp640,23 miliar, tumbuh 37 persen. PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) membukukan laba Rp369,62 miliar atau naik 22 persen, sedangkan PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) meraih laba Rp84,57 miliar, meningkat 9 persen.

PT Mitra Pack Tbk (PTMP) juga berbalik mencetak laba Rp10,9 miliar, dibandingkan rugi Rp39,37 miliar pada sembilan bulan pertama 2025.

Kinerja emiten transportasi laut juga menunjukkan pertumbuhan. PT Temas Tbk (TMAS) membukukan laba bersih Rp824,82 miliar, melonjak 126 persen dibandingkan Rp365,47 miliar.

Sementara itu, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) mencatatkan laba Rp15,34 miliar, naik 66 persen dari Rp9,24 miliar.

Di sektor telekomunikasi, PT Indosat Tbk (ISAT) meraih laba bersih Rp4,92 triliun, tumbuh 37 persen dibandingkan Rp3,59 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kinerja emiten media dan hiburan cenderung beragam.

PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) mencatatkan laba bersih Rp367,64 miliar, turun 17 persen dari Rp444,91 miliar.

Sebaliknya, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) membukukan laba Rp37,97 miliar, tumbuh 25 persen dari Rp30,26 miliar.

PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) masih mencatatkan rugi Rp6,91 miliar, tetapi menyusut 63 persen dibandingkan rugi Rp18,63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada sektor komponen otomotif, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membukukan laba bersih Rp964,92 miliar, tumbuh 22 persen. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) mencatatkan laba Rp479,49 miliar atau naik 14 persen, sedangkan PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) meraih laba Rp116,74 miliar, meningkat 8 persen.

Emiten Kesehatan dan Ritel, Ada yang Berbalik Merugi

Sektor kesehatan dan farmasi memperlihatkan kinerja yang beragam.

PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) mencatatkan laba bersih Rp1,08 triliun, naik 6 persen. Namun, PT ESA Medika Mandiri Tbk (EMMI) berbalik rugi Rp45,92 miliar dari laba Rp17,91 miliar, sementara PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) mencatatkan rugi Rp11,09 miliar setelah sebelumnya membukukan laba Rp13,71 miliar.

PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) membukukan laba Rp1,05 triliun, turun 8 persen, sedangkan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan laba Rp619,1 miliar atau terkoreksi 24 persen.

Di sisi lain, rugi PT Indofarma Tbk (INAF) menyusut 78 persen menjadi Rp27,56 miliar dari Rp127,09 miliar.

PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) meraih laba Rp331,88 miliar, tumbuh 31 persen, sementara PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) dan PT Murni Sadar Tbk (MTMH) masing-masing mencatatkan laba Rp125,87 miliar dan Rp70,78 miliar, naik 10 persen dan 9 persen.

Pada sektor ritel konsumen, PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) membukukan laba bersih Rp705,57 miliar, meningkat 19 persen dari Rp590,72 miliar.

Rugi PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) menyusut 58 persen menjadi Rp17,05 miliar dari Rp40,25 miliar.

Pertumbuhan juga tercatat pada kelompok specialty retail. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) meraih laba bersih Rp1,72 triliun, naik 26 persen, sedangkan PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) mencatatkan laba Rp1,44 triliun atau tumbuh 24 persen.

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) membukukan laba Rp1,09 triliun, meningkat 38 persen.

Sementara itu, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) mencatatkan laba Rp892,74 miliar, naik 13 persen, dan PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) meraih laba Rp193,84 miliar, tumbuh 55 persen.

Migas Tumbuh, Kinerja Energi Terbarukan Terbelah

Di sektor minyak dan gas (migas), sejumlah emiten mencatatkan pertumbuhan laba dua digit. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membukukan laba bersih Rp2,21 triliun, tumbuh 34 persen dibandingkan Rp1,65 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan laba USD292,95 juta, naik 23 persen dari USD237,9 juta.

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) meraih laba USD72,81 juta, meningkat 31 persen dibandingkan USD55,65 juta.

Pertumbuhan lebih tinggi dicatatkan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), dengan laba USD25,09 juta atau melonjak 113 persen dari USD11,77 juta.

Sementara itu, PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan laba Rp681,55 miliar, naik 21 persen, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencatatkan laba Rp513,08 miliar, tumbuh 115 persen dari Rp239,14 miliar.

Pada kelompok energi terbarukan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan laba USD126,63 juta, meningkat 21 persen dibandingkan USD104,28 juta. PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) juga mencatatkan pertumbuhan laba 19 persen menjadi Rp56,62 miliar.

Namun, kinerja emiten energi terbarukan lainnya melemah. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatatkan laba USD30,26 juta, turun 61 persen dari USD77,61 juta. Laba PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) menyusut 55 persen menjadi Rp3,87 miliar dari Rp8,57 miliar.

Astra Tertekan

Di sisi lain, sejumlah emiten besar masih menghadapi tekanan. PT Astra International Tbk (ASII), misalnya, mencatat laba Rp21,6 triliun, turun 12 persen.

Tekanan juga terlihat pada PT PP Properti Tbk (PPRO) yang mencatat rugi Rp291,06 miliar, membengkak dari rugi Rp37,02 miliar.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih mencatat rugi Rp2,87 triliun, meskipun lebih rendah dibandingkan rugi Rp3,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlu dicatat, daftar tersebut merupakan rekapitulasi sementara Sinarmas Sekuritas.

Jumlah emiten yang tercantum belum mewakili seluruh perusahaan tercatat di BEI.

Dengan pembaruan data yang masih berjalan, komposisi emiten dengan pertumbuhan laba tertinggi maupun gambaran kinerja masing-masing sektor masih dapat berubah.

Karena itu, perkembangan berikutnya tetap perlu dicermati seiring bertambahnya emiten yang masuk dalam rekapitulasi kinerja keuangan hingga 9 bulan 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Advertisement
Advertisement