Dari sisi pasokan, rendahnya permukaan air akibat El Niño membuat sejumlah bagian hulu Barito di Kalimantan Tengah tidak dapat dilalui kapal.
Sejumlah pengirim batu bara telah menyatakan force majeure, sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan sekitar 3,9 juta ton per bulan volume pengangkutan batu bara melalui tongkang berada dalam risiko.
Di sisi permintaan, periode Juli-Oktober biasanya menjadi periode dengan harga batu bara relatif tinggi karena kebutuhan pendinginan di belahan bumi utara bertepatan dengan aktivitas restocking menjelang musim dingin.
Dampak El Niño terhadap produksi listrik tenaga air dan pengisian kembali waduk di India juga berpotensi mendorong negara tersebut kembali meningkatkan pembelian batu bara dari pasar seaborne.
Selain harga batu bara, potensi dividen khusus dari divestasi Kestrel menjadi katalis penting bagi AADI. Proses divestasi masih berlangsung dan diperkirakan dapat rampung pada kuartal I-2027.